Uncategorized

The Circle of Love

Hmm… ini tulisan pertama gue yang original bukan nyampah2an di WordPress ata cross-post dari Multiply… hehehe… Welcome me dooonk!! *rese*

Well, langsung to the point aja ya. Kemaren ni gue ke gereja di Wisma Nusantara, Pullman Hotel. Nama gerejanya Jakarta Praise Community Center (JPCC). Di sini jemaatnya buanyakkkk bangettt, sampe2 jemaat udah memenuhi area gereja (baca: hall gedung) satu jam sebelum kebaktian di mulai. Jarang2 kan liat orang Indonesia dateng lebih awal… 😀

Anyway, gue baru tau kalo gereja inilah yang jadi penyelenggara atau pengelola pengungsian di arena futsal Cometa, di Pluit, waktu banjir pertengahan-akhir Januari kemaren. Gue liat video mengenai kegiatan sukarela mereka. Di situ tampak ratusan orang lagi antri buat ngambil makanan. Antriannya panjaaaang dan kayak ular, tapi RAPIII!! Sesuatu yang gak pernah gue liat di manapun yang berjudul ‘bantuan sosial’.

Area di dalem hall pun bersih banget. Rupanya para pengungsi benar2 dihimbau dan diajarkan untuk tertib dan bersih. Mereka juga diajak untuk melakukan sesuatu sesuai pada tempatnya. Misalnya, kalo mo makan, ya di area yang telah disediakan. Kalo mo tidur juga, kalo mo merokok juga. Jadi semua rapi, semua tertib, semua nyaman.

Nah, kok bisa2nya nih orang2 yg tinggal di bantaran waduk Pluit jadi tertib gini?

Pendeta yg khotbah Minggu kemaren penasaran. Waktu berkunjung dan bantu2 di Cometa, dia nanya ke bapak2 yg lagi merokok: kok bisa rapi gini? Dan si bapak2 itu bilang: iya Pak, toh ini untuk kebaikan kami juga, kalo antri makanan pun, toh yang ngantri di depan kami juga anak dan istri kami sendiri, jadi tidak apa2 kami mengantri.

Oh ternyata para pengungsi sadar sepenuhnya apa yg dilakukan volunteer2 tersebut adl untuk dan hanya untuk kebaikan mereka juga.

Apa yang mendasari ratusan orang volunteer (yang gak semuanya saling kenal) dan juga banyak pihak sponsor (penyumbang makanan dll) ini sehingga mereka bisa memberikan yg terbaik utk pengungsi? Jawabannya cuma satu: KASIH.

Semua perbuatan mereka berlandaskan kasih. Kasih, yang nggak meminta balasan apapun. Kasih, yang dilakukan untuk melayani, bukan dilayani. Kasih, yang tidak menguntungkan diri sendiri. Love, that has a power to change, to motivate, to unify.

Yg gue pelajari di khotbah kemarin, gw namakan sendiri sebagai The Circle of Love.

The Circle of Love
The Circle of Love

Semua tindakan yang dilandasi oleh kasih, akan membuat kita melakukan suatu hal tanpa pamrih. We give. And by giving, we serve. And by serving, we will get love. That’s the circle. Tapi, jika melakukan sesuatu untuk pamrih, we call it lust. In lust we expect to be served. And by expecting that, we want people to give us what we want. We take from others, we fulfill our lust. This is another circle. The Circle of Lust. Circle that, unfortunately, practiced all over the world.

The Circle of Lust
The Circle of Lust

Seandainya pemimpin2 di negeri ini mendengar apa yang gue dengar Minggu kemarin… Indonesia will be a much better place to live.

Uhm… sayangnya ada beberapa orang yang begitu tertutup hatinya, sehingga waktu mereka baca artikel tentang bagusnya pengungsian ini, mereka mencemooh: Ahok cuma nolongin orang2 sebangsanya. Gue cuma bisa bengong. Mereka gak lihat apa yang ngungsi di sana bukan cina2 yang tinggal di Pluit, tapi orang2 yang tinggal di bantaran waduk Pluit…?? Yang notabene adalah pribumi, if you want to call them that. Well, they obviously don’t have love in their heart.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s